
Ketidakpastian ekonomi dapat memengaruhi bisnis melalui perubahan daya beli, biaya bahan baku, nilai tukar, suku bunga, permintaan pasar, hingga keputusan konsumen. Namun, kondisi ekonomi yang tidak pasti tidak selalu berarti bisnis harus menghentikan pertumbuhan.
Bank Indonesia pada Agustus 2026 menilai prospek ekonomi global masih lemah dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 masih tumbuh 5,29% secara tahunan (yoy) dan BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7%.
Artinya, owner tidak perlu langsung bersikap defensif terhadap semua keputusan bisnis. Fokus utama justru perlu diarahkan pada cash flow, profitabilitas, efisiensi, pelanggan, supply chain, dan kesiapan menghadapi beberapa skenario ekonomi.
Apa yang Harus Dilakukan Bisnis Saat Ekonomi Tidak Pasti?
Owner yang mencari informasi tentang ketidakpastian ekonomi umumnya ingin mengetahui apakah bisnis perlu mengurangi biaya, menahan ekspansi, menaikkan harga, menyimpan lebih banyak kas, atau tetap mengejar pertumbuhan.
Jawabannya tidak dapat disamaratakan.
Perusahaan perlu melihat kondisi internal sebelum menentukan strategi. Bisnis dengan cash flow sehat, permintaan kuat, dan margin tinggi tentu membutuhkan respons berbeda dibandingkan perusahaan yang penjualannya menurun sementara biaya terus meningkat.
Karena itu, keputusan sebaiknya berangkat dari data bisnis, bukan kepanikan terhadap kondisi ekonomi.
Apa yang Harus Dipersiapkan Owner?
Saat ketidakpastian ekonomi meningkat, owner perlu memprioritaskan tujuh area:
Cash Flow → Margin → Biaya → Pelanggan → Supply Chain → Skenario → Sistem
Tujuannya bukan sekadar membuat bisnis bertahan. Perusahaan perlu meningkatkan daya tahan agar tetap mampu mengambil peluang ketika kondisi pasar berubah.
1. Perkuat Cash Flow dan Cadangan Likuiditas
Profit tidak selalu sama dengan kas yang tersedia.
Perusahaan dapat terlihat profitable di laporan laba rugi, tetapi mengalami tekanan apabila piutang terlalu lama, persediaan menumpuk, pembayaran supplier jatuh tempo, atau biaya operasional meningkat.
Karena itu, owner perlu memantau cash inflow, cash outflow, account receivable, account payable, working capital, dan kebutuhan kas operasional.
EFBA Consulting juga menempatkan cash flow sebagai salah satu indikator penting ketika bisnis berada pada tahap bertahan dan stabilisasi. Perusahaan disarankan mengevaluasi produk yang menghasilkan margin, biaya yang tidak produktif, persediaan, penagihan, serta aktivitas yang menghasilkan revenue.
2. Jangan Hanya Melihat Omzet
Omzet tinggi belum tentu menunjukkan bisnis dalam kondisi sehat.
Misalnya, penjualan meningkat 20%, tetapi biaya bahan baku, marketing, logistik, dan tenaga kerja meningkat lebih cepat. Dalam situasi tersebut, perusahaan bertumbuh secara revenue tetapi mengalami penurunan profitabilitas.
Owner sebaiknya membaca hubungan:
Revenue → Gross Profit → Operating Cost → Net Profit → Cash Flow
EFBA Consulting menyarankan owner memantau revenue growth, gross profit margin, net profit margin, cash flow, operating expense, working capital, serta kewajiban finansial secara berkala.
Dengan cara ini, manajemen dapat mendeteksi tekanan bisnis sebelum masalah menjadi lebih besar.
3. Lakukan Efisiensi, Bukan Sekadar Pemotongan Biaya
Saat kondisi ekonomi tidak pasti, respons pertama sebagian bisnis adalah mengurangi pengeluaran.
Strategi tersebut perlu dilakukan secara selektif.
Memotong biaya marketing yang terbukti menghasilkan pelanggan justru dapat menurunkan penjualan. Mengurangi quality control dapat meningkatkan komplain. Sementara mengurangi tenaga kerja tanpa memperbaiki proses dapat menurunkan produktivitas.
Karena itu, bedakan antara productive cost dan non-productive cost.
Efisiensi berarti menghasilkan output yang sama atau lebih besar dengan penggunaan sumber daya yang lebih baik, bukan sekadar membuat pengeluaran menjadi lebih kecil.
4. Pertahankan Pelanggan yang Sudah Ada
Dalam kondisi pasar yang berubah, perusahaan tidak selalu harus mengejar pelanggan baru secara agresif.
Pelanggan lama dapat menjadi sumber stabilitas revenue.
Owner perlu melihat repeat order, customer retention, average transaction value, complaint rate, dan customer lifetime value. Selanjutnya, perusahaan dapat memperkuat layanan, program loyalitas, after-sales service, bundling, atau cross-selling.
Tujuannya adalah meningkatkan nilai dari basis pelanggan yang sudah dimiliki sebelum mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan pelanggan baru.
5. Evaluasi Supply Chain dan Ketergantungan Supplier
Ketidakpastian global juga dapat berdampak pada harga komoditas, logistik, nilai tukar, dan ketersediaan bahan baku.
Bank Indonesia pada Agustus 2026 menyebut ketidakpastian global masih tinggi, termasuk tekanan dari perkembangan geopolitik, harga minyak dan komoditas, inflasi global, serta kondisi pasar keuangan.
Bisnis yang bergantung pada bahan baku impor atau satu supplier perlu memperhatikan risiko tersebut.
Owner dapat mengevaluasi supplier alternatif, lead time, safety stock, kontrak pembelian, ketergantungan impor, serta dampak perubahan harga terhadap margin.
Tujuannya bukan menimbun stok sebanyak mungkin, tetapi membangun supply chain yang lebih resilient.
6. Buat Beberapa Skenario Bisnis
Owner tidak perlu mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi enam bulan ke depan. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang harus dilakukan jika kondisi berubah.
Buat minimal tiga skenario:
Best Case → Base Case → Worst Case
Misalnya, apa yang terjadi jika penjualan naik 15%? Bagaimana jika stagnan? Apa yang dilakukan jika penjualan turun 20% sementara biaya bahan baku meningkat?
Setiap skenario dapat memiliki keputusan berbeda mengenai marketing, inventory, recruitment, investasi, ekspansi, dan cash reserve.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak perlu menyusun strategi dari nol setiap kali pasar berubah.
7. Jangan Otomatis Membatalkan Ekspansi
Ketidakpastian ekonomi bukan berarti semua ekspansi harus dihentikan.
Bank Indonesia mencatat ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,29% yoy pada triwulan II 2026 meskipun ketidakpastian global masih tinggi.
Karena itu, perusahaan perlu melihat kondisi bisnisnya sendiri.
EFBA Consulting menilai bisnis masih dapat mempertimbangkan ekspansi apabila permintaan pasar sudah terbukti, unit economics sehat, profit dan cash flow mendukung, operasional dapat direplikasi, serta tim mempunyai kapasitas.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya:
“Apakah kondisi ekonomi sedang bagus?”
Tetapi:
“Apakah perusahaan cukup sehat untuk mengambil peluang dengan risiko yang terukur?”
Mengapa Owner Tetap Perlu Waspada?
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan kombinasi antara pertumbuhan domestik dan risiko eksternal.
Pada Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. BI juga menyebut kebijakan tersebut diarahkan antara lain untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak gejolak global serta menjaga sasaran inflasi 2026 dan 2027 sebesar 2,5±1%.
Sementara itu, IMF dalam pembaruan World Economic Outlook Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan PDB riil Indonesia tahun 2026 sekitar 5,0%.
Data tersebut menunjukkan satu hal penting: ketidakpastian ekonomi tidak sama dengan tidak adanya pertumbuhan.
Bagi owner, strategi yang lebih relevan adalah memperkuat fundamental perusahaan sambil tetap membaca peluang pasar.
Bagaimana Owner Menghadapi Penjualan Turun dan Biaya Naik?
Misalnya sebuah perusahaan mengalami penurunan penjualan 10%, sementara biaya operasional naik 8%.
Respons spontan mungkin berupa pemotongan seluruh budget marketing.
Namun, langkah tersebut belum tentu tepat.
Manajemen perlu mencari penyebab terlebih dahulu. Apakah penjualan turun karena traffic menurun? Conversion rate? Harga? Kompetitor? Daya beli? Produk? Distribusi?
Pendekatan yang sama berlaku pada biaya.
Perusahaan perlu mengetahui biaya mana yang meningkat dan apa penyebabnya sebelum melakukan efisiensi.
EFBA Consulting juga menekankan pendekatan diagnosis tersebut. Menambah budget iklan ketika masalah sebenarnya berada pada conversion rate atau memangkas biaya yang justru mendukung penjualan dapat menciptakan persoalan baru.
Diagnosis → Prioritas → Action Plan → Monitoring
lebih efektif dibandingkan mengambil keputusan berdasarkan asumsi.
Fokus pada Kondisi Aktual Bisnis
Pendekatan EFBA Digital Mulia dan EFBA Consulting menempatkan analisis kondisi aktual perusahaan sebagai dasar penyusunan strategi.
EFBA Consulting menggunakan pendekatan: Business Assessment → Diagnosis → Strategy → Implementation → Monitoring → Evaluation
Pendekatan tersebut membantu perusahaan melihat masalah secara menyeluruh sebelum menentukan tindakan. Dalam materi konsultasi dan strategi pertumbuhan yang dipublikasikan EFBA Consulting, evaluasi mencakup area seperti finance, marketing, sales, SDM, operasional, pelanggan, sistem, hingga kesiapan scale up.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan saat menghadapi ketidakpastian ekonomi karena keputusan bisnis perlu didasarkan pada kondisi perusahaan, bukan hanya sentimen pasar.
Perusahaan yang memiliki cash flow sehat mungkin tetap dapat berinvestasi. Sebaliknya, perusahaan dengan margin tipis perlu memperkuat profitabilitas terlebih dahulu.
Dengan demikian, strategi yang tepat bergantung pada diagnosis yang tepat.
Perkuat Fondasi Bisnis Sebelum Mengambil Keputusan
Untuk memperdalam strategi bisnis, owner dapat membaca pembahasan terkait di EFBA Digital Mulia mengenai konsultasi dan pengembangan bisnis.
Sebagai referensi tambahan, pelajari juga Strategi Pertumbuhan Bisnis: Dari Bertahan hingga Scale Up untuk memahami tahapan stabilisasi, pertumbuhan, ekspansi, dan scale up.
Owner yang ingin mengevaluasi kesiapan ekspansi dapat membaca Kapan Bisnis Harus Ekspansi?, sedangkan evaluasi kondisi finansial dapat diperdalam melalui 7 Indikator Kesehatan Keuangan Bisnis.
Pengalaman EFBA dalam Mendampingi Bisnis Menghadapi Perubahan Kondisi
Menghadapi ketidakpastian ekonomi tidak dapat dilakukan dengan satu strategi yang berlaku untuk semua perusahaan. Setiap bisnis memiliki struktur biaya, karakter pelanggan, margin, kebutuhan modal kerja, serta tingkat ketergantungan terhadap supplier dan kondisi pasar yang berbeda.
EFBA Consulting telah mendampingi berbagai bisnis dalam proses evaluasi dan pengembangan usaha sejak 2013, mulai dari UMKM hingga perusahaan dengan skala yang lebih besar. Pengalaman tersebut mencakup berbagai sektor bisnis, sehingga analisis tidak hanya melihat kondisi ekonomi secara umum, tetapi juga bagaimana perubahan pasar berdampak terhadap kondisi aktual masing-masing perusahaan.
Dalam proses konsultasi, EFBA tidak langsung mengarahkan perusahaan untuk melakukan pemotongan biaya atau menghentikan ekspansi. Kondisi bisnis terlebih dahulu perlu dianalisis melalui aspek seperti kinerja penjualan, profitabilitas, cash flow, biaya operasional, pelanggan, proses bisnis, sumber daya manusia, dan kesiapan sistem.
Pendekatan tersebut membantu membedakan antara masalah yang berasal dari kondisi eksternal dan masalah yang sebenarnya berasal dari internal perusahaan. Penurunan penjualan, misalnya, tidak selalu disebabkan oleh daya beli pasar. Masalah dapat berasal dari positioning, produk, harga, channel pemasaran, conversion rate, distribusi, atau proses penjualan.
Karena itu, ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi, perusahaan perlu menentukan respons berdasarkan diagnosis kondisi aktual, bukan hanya mengikuti sentimen pasar.

FAQ
Apa dampak ketidakpastian ekonomi terhadap bisnis?
Ketidakpastian ekonomi dapat memengaruhi permintaan, daya beli, biaya bahan baku, nilai tukar, pembiayaan, investasi, supply chain, dan keputusan konsumen. Dampaknya berbeda untuk setiap industri dan kondisi perusahaan.
Apa yang harus dilakukan bisnis ketika ekonomi tidak pasti?
Prioritaskan cash flow, margin, efisiensi biaya, pelanggan, supply chain, dan scenario planning. Gunakan data aktual perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Apakah perusahaan harus mengurangi biaya?
Tidak selalu. Perusahaan sebaiknya mengurangi biaya yang tidak produktif tanpa mengganggu aktivitas yang menghasilkan revenue, kualitas, dan pelayanan pelanggan.
Apakah bisnis sebaiknya menunda ekspansi?
Tidak otomatis. Ekspansi dapat dipertimbangkan apabila permintaan terbukti, unit economics sehat, cash flow kuat, sistem siap, dan perusahaan mempunyai kemampuan menyerap risiko.
KPI apa yang harus dipantau owner saat ekonomi tidak pasti?
Owner dapat memantau revenue growth, gross margin, net profit margin, cash flow, operating expense, working capital, piutang, inventory turnover, conversion rate, repeat order, dan customer retention.
Bagaimana cara mempersiapkan bisnis menghadapi krisis?
Bangun beberapa skenario, siapkan likuiditas, kontrol biaya, kurangi ketergantungan pada satu supplier atau channel, pantau indikator bisnis secara rutin, dan tentukan action plan untuk setiap perubahan penting.
Ketidakpastian Tidak Bisa Dihilangkan, tetapi Bisnis Bisa Dipersiapkan
Owner tidak dapat mengendalikan suku bunga global, geopolitik, nilai tukar, harga komoditas, atau perubahan perilaku konsumen.
Namun, owner dapat mengendalikan cash flow, biaya, margin, inventory, strategi pelanggan, produktivitas, sistem, dan kualitas pengambilan keputusan.
Itulah yang perlu menjadi fokus ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Jangan mengambil keputusan hanya karena kondisi pasar terlihat optimistis atau pesimistis. Gunakan data untuk menentukan apakah bisnis perlu bertahan, melakukan efisiensi, memperkuat sistem, mengejar pertumbuhan, atau mengambil peluang ekspansi.
Jika perusahaan Anda sedang menghadapi penurunan penjualan, kenaikan biaya, tekanan cash flow, atau kebingungan menentukan strategi di tengah perubahan ekonomi, EFBA Digital Mulia dapat membantu melakukan evaluasi bisnis dan menyusun prioritas berdasarkan kondisi aktual perusahaan.
Mulai dari diagnosis bisnis, tentukan risiko utama, susun prioritas, lalu jalankan strategi yang dapat diukur.



