Table of Contents
pengembangan produk kosmetik

Industri kosmetik terus menghadirkan peluang bagi perusahaan, pemilik brand, maupun pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk baru. Namun, banyaknya produk yang beredar juga membawa tantangan. Brand tidak cukup hanya mengikuti tren bahan aktif, desain kemasan, atau produk yang sedang viral.

Pengembangan produk perlu dimulai dengan memahami konsumen, kebutuhan pasar, positioning, formula, kualitas, regulasi, harga, hingga strategi pemasaran. Setiap keputusan tersebut saling berkaitan.

Urgensinya semakin terlihat dari hasil pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dalam intensifikasi pengawasan pada 11–22 Mei 2026, BPOM menemukan 2.205 item kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan. Sebanyak 86,83% merupakan kosmetik ilegal, sedangkan kategori lainnya meliputi kosmetik impor tanpa surat keterangan impor, kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau dilarang, serta produk yang penggunaannya tidak sesuai definisi kosmetik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar kosmetik perlu berjalan bersama kepatuhan dan kualitas. Brand yang ingin berkembang sebaiknya tidak hanya bertanya, “produk apa yang sedang laku?”, tetapi juga “produk apa yang dibutuhkan konsumen dan bagaimana mengembangkannya secara bertanggung jawab?”

Bagaimana Cara Mengembangkan Produk Kosmetik Sesuai Kebutuhan Pasar?

Secara ringkas, pengembangan produk kosmetik dapat dimulai dengan mengidentifikasi target konsumen dan masalah yang ingin dibantu oleh produk. Setelah itu, pemilik brand melakukan riset pasar, menganalisis kompetitor, menentukan positioning, membuat product brief, mengembangkan formula dan sampel, menyiapkan kemasan, mempertimbangkan regulasi, menentukan harga, kemudian mempersiapkan produksi dan pemasaran.

Artinya, proses pengembangan tidak sebaiknya dimulai dari formula saja.

Produk yang secara teknis bagus belum tentu sesuai dengan kebutuhan pasar. Sebaliknya, produk yang memiliki peluang pasar tetap perlu dikembangkan dengan memperhatikan keamanan, ketentuan bahan, kualitas produksi, penandaan, legalitas, dan komunikasi kepada konsumen.

Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah:

Consumer Problem → Market Research → Product Concept → Formula → Compliance → Production → Marketing → Evaluation

Maraknya Kosmetik Ilegal Menjadi Peringatan bagi Pemilik Brand

Besarnya pasar kosmetik juga menarik peredaran produk yang tidak memenuhi ketentuan.

Selain temuan nasional pada Mei 2026, BPOM pada akhir bulan yang sama menemukan gudang penyimpanan kosmetik impor ilegal atau tanpa izin edar di Kabupaten Tangerang. Dari lokasi tersebut ditemukan 956 item atau 2.082.039 pieces kosmetik, dengan nilai keekonomian yang diperkirakan mencapai Rp27,6 miliar.

Pada pengawasan online, BPOM juga menemukan 9.042 tautan yang melanggar ketentuan peredaran kosmetik. Pelanggaran tersebut didominasi kosmetik ilegal.

Data ini bukan berarti setiap produk baru memiliki risiko yang sama. Namun, temuan tersebut memperlihatkan pentingnya membangun produk dengan proses yang lebih terencana.

Legalitas juga bukan sekadar kebutuhan administratif. Formula, bahan, proses produksi, informasi produk, klaim, kemasan, dan dokumentasi perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari satu proses pengembangan.

1. Mulai dari Masalah Konsumen, Bukan Produk yang Sedang Viral

Kesalahan yang dapat terjadi dalam pengembangan produk adalah memulai dengan pertanyaan, “produk apa yang sedang viral?”

Tren memang dapat menjadi sumber informasi. Namun, tren tidak selalu sama dengan kebutuhan pasar jangka panjang.

Misalnya, sebuah brand ingin mengembangkan facial serum karena kategori tersebut sedang populer. Sebelum menentukan formula, brand perlu mengetahui siapa yang akan menggunakan produk, masalah apa yang ingin dibantu, pengalaman seperti apa yang diharapkan, serta berapa harga yang realistis bagi target konsumen.

Pertanyaan lain juga perlu dipertimbangkan. Apakah produk akan menyasar remaja, pekerja profesional, pria, wanita, konsumen mass market, atau segmen tertentu? Apakah produk akan dijual melalui marketplace, reseller, klinik, toko kosmetik, atau website sendiri?

Jawaban tersebut akan memengaruhi konsep produk.

Dengan demikian, pengembangan sebaiknya dimulai dari consumer problem → consumer need → product opportunity, bukan sekadar meniru produk yang sedang ramai.

2. Lakukan Riset Pasar dan Kompetitor

Setelah mengetahui target konsumen, pelajari kategori produk yang ingin dimasuki.

Riset dapat dilakukan dengan melihat produk kompetitor, rentang harga, ukuran kemasan, bahan yang sering digunakan, bentuk komunikasi, ulasan konsumen, jenis keluhan, kanal distribusi, serta positioning yang sudah banyak digunakan.

Tujuannya bukan meniru kompetitor.

Sebaliknya, riset membantu menemukan ruang yang belum terlayani dengan baik.

Sebagai contoh, sebuah kategori mungkin dipenuhi produk dengan positioning harga rendah, tetapi masih memiliki ruang untuk pengalaman penggunaan yang berbeda. Pada kategori lainnya, pilihan produk mungkin sangat banyak, tetapi konsumen masih kesulitan memahami fungsi, kandungan, atau cara penggunaannya.

Temuan seperti ini dapat diterjemahkan menjadi peluang pengembangan produk.

Untuk kebutuhan analisis bisnis yang lebih luas, EFBA Consulting mencantumkan layanan konsultasi yang mencakup strategi marketing, keuangan, dan operasional bisnis.

3. Tentukan Target Konsumen Secara Spesifik

Target pasar yang terlalu luas membuat keputusan produk menjadi lebih sulit.

Kalimat seperti “produk untuk semua wanita Indonesia” belum cukup untuk menjadi dasar product development.

Brand perlu mempersempit profil konsumen berdasarkan faktor yang memang relevan dengan produknya. Misalnya usia, kebutuhan kulit, daya beli, kebiasaan menggunakan kosmetik, preferensi tekstur, hingga tempat konsumen biasanya membeli produk.

Target konsumen yang lebih jelas membantu tim menentukan formula, kemasan, ukuran, harga, bahasa komunikasi, dan kanal penjualan.

Pada akhirnya, produk tidak harus relevan untuk semua orang. Produk perlu relevan bagi konsumen yang memang ingin dilayani oleh brand.

4. Bangun Positioning Sebelum Mengembangkan Formula

Setelah target konsumen ditentukan, brand perlu menjawab satu pertanyaan penting:

Mengapa konsumen perlu mempertimbangkan produk ini dibandingkan pilihan yang sudah tersedia?

Jawabannya sebaiknya lebih konkret daripada sekadar “premium”, “berkualitas”, atau “terbaik”.

Positioning dapat dibangun berdasarkan kebutuhan pengguna, pengalaman penggunaan, karakter formula, rentang harga, konsep brand, kemudahan penggunaan, atau pendekatan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Positioning kemudian menjadi dasar pengembangan produk.

Dengan begitu, tim tidak mengembangkan formula secara terpisah dari strategi bisnis.

5. Buat Product Brief Sebelum Masuk ke Formula

Setelah konsep semakin jelas, buat product brief.

Dokumen ini berfungsi menerjemahkan kebutuhan pasar menjadi kebutuhan pengembangan yang lebih konkret.

Product brief dapat memuat kategori produk, target pengguna, kebutuhan konsumen, fungsi yang ingin dikomunikasikan, referensi tekstur, warna, aroma, ukuran produk, jenis kemasan, target harga, serta referensi produk yang relevan.

Misalnya, istilah “serum brightening untuk anak muda” masih terlalu luas.

Konsep tersebut perlu diterjemahkan lebih lanjut menjadi karakter produk, pengalaman penggunaan, rentang harga, ukuran, kemasan, serta komunikasi yang ingin dibangun.

Product brief membantu pemilik brand dan tim pengembangan berbicara dengan arah yang sama.

6. Kembangkan Formula dengan Memperhatikan Regulasi Bahan

Formula merupakan bagian penting dari pengembangan produk kosmetik, tetapi pemilihan bahan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan popularitas.

BPOM memiliki ketentuan mengenai persyaratan teknis bahan kosmetik. Saat ini, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik berstatus berlaku dan menggantikan ketentuan sebelumnya terkait persyaratan teknis bahan kosmetika.

Karena itu, pemilihan bahan perlu memperhatikan fungsi, konsentrasi dan pembatasan yang berlaku, karakter formula, target pengguna, serta ketentuan regulasi yang relevan.

Tahap pengembangan juga dapat mempertimbangkan tekstur, warna, aroma, sensasi setelah penggunaan, dan kesesuaian antara formula dengan kemasan.

Formula akhirnya perlu menjawab dua kebutuhan sekaligus: konsep yang diinginkan brand dan persyaratan teknis yang berlaku.

7. Gunakan Sampel untuk Mengevaluasi Konsep Produk

Konsep di atas kertas belum tentu menghasilkan pengalaman produk yang sesuai.

Karena itu, sampel menjadi bagian penting sebelum masuk ke produksi.

Sampel dapat digunakan untuk mengevaluasi tekstur, warna, aroma, karakter penggunaan, kemasan, serta kesesuaiannya dengan product brief.

Jika hasilnya belum sesuai, formula atau karakter produk dapat membutuhkan penyesuaian.

Tahap ini juga membantu mencegah keputusan produksi dalam jumlah besar sebelum brand memahami karakter produk yang akan dibawa ke pasar.

Website EFBA Kosmetindo mencantumkan proses pengembangan yang mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, pengembangan sampel, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi.

efba logo

8. Pertimbangkan Notifikasi BPOM Sejak Awal Pengembangan

Dalam pengembangan produk kosmetik, aspek legalitas perlu dipertimbangkan sejak awal. Kosmetik merupakan kategori produk yang berada dalam pengawasan BPOM sehingga pemilik brand perlu memahami ketentuan yang berkaitan dengan produk sebelum memasuki tahap produksi dan pemasaran.

Tata cara pengajuan notifikasi kosmetika antara lain diatur melalui Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika, yang berdasarkan JDIH BPOM masih berstatus berlaku.

Karena itu, legalitas tidak ideal jika baru dipikirkan setelah seluruh proses pengembangan selesai.

Aspek regulasi perlu diperhitungkan sejak tahap formula, pemilihan bahan, dokumentasi, penandaan, hingga klaim yang nantinya digunakan untuk memasarkan produk.

Pendekatan tersebut membuat pengembangan produk kosmetik berjalan lebih terarah karena brand dapat menyelaraskan konsep produk dengan kebutuhan regulasi sejak awal.

Selain itu, langkah ini membantu menjaga konsistensi antara formula yang dikembangkan, informasi yang disampaikan kepada konsumen, dan produk yang akhirnya beredar di pasar.

9. Bedakan BPOM, Halal, dan Standar Produksi

BPOM, sertifikasi halal, dan standar produksi memiliki fungsi serta dasar regulasi yang berbeda. Ketiganya tidak sebaiknya digunakan sebagai istilah yang saling menggantikan.

Notifikasi kosmetika merupakan bagian dari kerangka pengawasan kosmetik BPOM.

Sementara itu, sertifikasi halal berada dalam sistem Jaminan Produk Halal. Berdasarkan PP Nomor 42 Tahun 2024 dan informasi resmi BPJPH, kosmetik termasuk kategori yang memasuki kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2026.

Karena artikel ini disusun pada September 2026, pemilik brand yang sedang melakukan pengembangan produk kosmetik perlu memasukkan kebutuhan halal ke dalam roadmap produk sejak sekarang, mengingat implementasinya semakin dekat.

Di sisi lain, standar produksi berkaitan dengan bagaimana proses pembuatan dan pengendalian mutu dilakukan sesuai persyaratan yang berlaku.

Dengan demikian, brand perlu memahami ketiganya sesuai konteks masing-masing. Persiapan sejak awal juga dapat mengurangi kebutuhan melakukan penyesuaian besar ketika produk sudah memasuki tahap lanjutan.

10. Perhatikan Klaim, Penandaan, dan Komunikasi Produk

Formula yang baik tetap membutuhkan komunikasi yang tepat.

Brand tentu ingin menjelaskan manfaat dan keunggulan produk. Namun, klaim pemasaran tidak sebaiknya dibuat hanya karena terdengar menarik atau berpotensi meningkatkan penjualan.

Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik saat ini berstatus berlaku. Regulasi tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam menyiapkan informasi dan komunikasi kosmetik kepada masyarakat.

Karena itu, tim marketing dan tim pengembangan produk kosmetik sebaiknya tidak bekerja secara terpisah.

Konsep formula, manfaat yang ingin dikomunikasikan, informasi kemasan, konten promosi, dan klaim perlu memiliki hubungan yang konsisten.

Sebagai contoh, positioning yang dibuat oleh tim marketing perlu mempertimbangkan karakter produk yang benar-benar dikembangkan. Sebaliknya, tim pengembangan juga perlu memahami target konsumen dan konsep brand.

Copywriting tetap dapat dibuat menarik, tetapi informasi mengenai produk harus dapat dipertanggungjawabkan.

11. Tentukan Harga Sebelum Produksi Massal

Produk yang sesuai kebutuhan konsumen juga perlu masuk akal secara bisnis.

Oleh sebab itu, harga menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan produk kosmetik. Harga jual sebaiknya tidak ditentukan hanya dengan meniru kompetitor.

Pemilik brand perlu memperhitungkan pengembangan formula, produksi, kemasan, desain, legalitas, distribusi, marketplace fee, promosi, komisi reseller, operasional, dan margin.

Setelah itu, bandingkan struktur biaya dengan positioning dan kemampuan beli target konsumen.

Misalnya, brand ingin memasuki segmen harga Rp100.000–Rp150.000. Konsep formula dan kemasan perlu dirancang dengan struktur biaya yang memungkinkan produk tetap berada dalam rentang tersebut.

Artinya, target harga idealnya sudah menjadi pertimbangan ketika product brief disusun, bukan baru dihitung setelah produk selesai.

Dengan demikian, keputusan bisnis dapat memengaruhi pengembangan produk kosmetik sejak tahap awal.

12. Pilih Kemasan Berdasarkan Fungsi dan Target Pasar

Kemasan tidak hanya berfungsi mempercantik produk.

Dalam pengembangan produk kosmetik, kemasan juga berhubungan dengan perlindungan produk, pengalaman konsumen, positioning, biaya, distribusi, serta informasi yang perlu ditampilkan.

Karena itu, keputusan packaging sebaiknya tidak dibuat hanya berdasarkan visual yang sedang populer.

Brand perlu mempertimbangkan kesesuaian formula dengan kemasan, ukuran produk, kemudahan penggunaan, kebutuhan pengiriman, target harga, dan ruang untuk informasi produk.

Selain itu, karakter kemasan perlu disesuaikan dengan positioning. Produk yang menyasar pasar tertentu dapat membutuhkan pendekatan desain, ukuran, material, dan pengalaman penggunaan yang berbeda.

Aspek penandaan juga perlu diperhitungkan sebelum desain dicetak dalam jumlah besar.

Dengan pendekatan tersebut, packaging menjadi bagian dari strategi produk, bukan sekadar dekorasi.

13. Pilih Partner Pengembangan dan Produksi Berdasarkan Kebutuhan

Tidak semua pemilik brand memiliki fasilitas produksi sendiri.

Salah satu alternatifnya adalah menggunakan model maklon atau contract manufacturing. Dalam model tersebut, pemilik brand dapat bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki ruang lingkup pengembangan dan produksi sesuai kebutuhan proyek.

Pemilihan partner menjadi bagian penting dalam pengembangan produk kosmetik karena prosesnya dapat mencakup konsultasi konsep, formulasi, pengembangan sampel, legalitas, hingga persiapan produksi.

Website EFBA menampilkan layanan Jasa Maklon Kosmetik EFBA. Halaman tersebut menjelaskan layanan terkait pengembangan dan manufaktur produk kosmetik.

Sementara itu, EFBA Kosmetindo menampilkan layanan mulai dari konsultasi konsep, formulasi, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi.

Namun, penggunaan jasa maklon tidak menghilangkan tanggung jawab pemilik brand untuk memahami bisnisnya.

Brand tetap perlu mengetahui siapa konsumennya, apa positioning produknya, berapa harga yang realistis, bagaimana distribusinya, dan bagaimana produk akan dipasarkan.

Dengan kata lain, partner produksi membantu menjalankan aspek pengembangan dan produksi sesuai ruang lingkup layanan, sedangkan pemilik brand tetap perlu memiliki arah bisnis yang jelas.

14. Bangun Strategi Pemasaran Sebelum Produk Selesai

Kesalahan lain yang dapat terjadi adalah menunggu produk selesai diproduksi sebelum memikirkan pemasaran.

Strategi pemasaran sebaiknya berjalan paralel dengan pengembangan produk kosmetik.

Ketika formula dan legalitas sedang diproses, brand dapat mempersiapkan identitas visual, website, media sosial, marketplace, product photography, konten edukasi, strategi launching, database calon konsumen, hingga jaringan distribusi.

Brand juga dapat mulai menentukan pesan utama yang akan digunakan ketika memperkenalkan produk. Pesan tersebut perlu selaras dengan positioning, target konsumen, karakter formula, dan informasi produk.

Pendekatan ini membantu memperpendek jarak antara produk selesai diproduksi dan produk mulai diperkenalkan ke pasar.

Selain itu, pemasaran yang disiapkan lebih awal memberi waktu bagi brand untuk membangun awareness dan edukasi sebelum meminta konsumen membeli.

Dengan demikian, pengembangan produk kosmetik tidak hanya menghasilkan produk yang siap diproduksi, tetapi juga produk yang memiliki arah pemasaran lebih jelas.

15. Evaluasi Produk Setelah Masuk Pasar

Pengembangan produk kosmetik tidak sepenuhnya berhenti ketika produksi selesai.

Setelah produk beredar, brand perlu mengevaluasi respons konsumen.

Perhatikan pertanyaan yang sering muncul, ulasan konsumen, tingkat pembelian ulang, keluhan, preferensi varian, respons terhadap harga, hingga performa setiap kanal penjualan.

Informasi tersebut dapat menjadi dasar pengembangan berikutnya.

Misalnya, konsumen mungkin menyukai formula tetapi kurang nyaman dengan ukuran kemasan. Pada kasus lain, produk sebenarnya mendapatkan respons positif tetapi komunikasi manfaatnya belum cukup mudah dipahami.

Brand juga tidak harus langsung menambah banyak SKU.

Dalam beberapa situasi, memperbaiki produk, komunikasi, distribusi, atau pengalaman konsumen dari produk yang sudah ada dapat menjadi keputusan yang lebih relevan.

Karena itu, proses pengembangan produk kosmetik dapat menjadi sebuah siklus:

Research → Develop → Launch → Measure → Learn → Improve

Data setelah produk diluncurkan kemudian dapat digunakan sebagai bahan untuk menentukan pengembangan berikutnya.

Hubungan Legalitas, Keamanan, Transparansi, Kualitas, dan Kepercayaan Konsumen

Dalam pengembangan produk kosmetik, legalitas, keamanan, transparansi, kualitas produksi, dan kepercayaan konsumen tidak berdiri sendiri.

Kelima aspek tersebut saling berhubungan dalam membangun fondasi produk yang lebih terarah.

  • Legalitas membantu memastikan produk dikembangkan dan diedarkan dalam kerangka regulasi yang berlaku.
  • Keamanan berkaitan dengan bahan, formulasi, mutu, dan penggunaan produk sesuai ketentuan.
  • Transparansi membantu konsumen memahami produk yang mereka gunakan melalui informasi dan komunikasi yang sesuai.
  • Kualitas produksi diperlukan agar karakter dan mutu produk tetap konsisten dengan spesifikasi yang telah ditentukan.
  • Kepercayaan konsumen dapat tumbuh ketika brand mampu menjaga konsistensi antara produk, informasi, kualitas, dan pengalaman yang diterima konsumen.

BPJPH juga menghubungkan kebijakan halal dengan aspek transparansi, ketertelusuran, dan kepercayaan. Dalam publikasinya pada 2026, BPJPH menekankan bahwa halal tidak hanya diposisikan sebagai pemenuhan kewajiban, tetapi juga berkaitan dengan transparansi dan kepercayaan terhadap produk.

Karena itu, brand sebaiknya tidak menempatkan compliance dan kualitas sebagai beban yang terpisah dari strategi bisnis.

Keduanya merupakan bagian dari fondasi pengembangan produk kosmetik yang perlu dipertimbangkan sejak tahap perencanaan hingga produk masuk pasar.

Urutan Pengembangan Produk Kosmetik

Jika seluruh proses diringkas, pengembangan produk kosmetik dapat digambarkan melalui alur berikut:

Kebutuhan Konsumen → Riset Pasar → Target Konsumen → Positioning → Product Brief → Formula → Sampel → Evaluasi → Packaging → Legalitas → Harga → Persiapan Produksi → Produksi → Distribusi → Marketing → Evaluasi Pasar

Alur tersebut tidak selalu berjalan secara linear.

Pengembangan kemasan dapat berjalan ketika formula sedang disempurnakan. Persiapan pemasaran juga dapat dilakukan ketika proses legalitas berlangsung.

Namun, setiap keputusan dalam proses pengembangan produk kosmetik idealnya tetap kembali kepada tiga pertanyaan utama:

  1. Siapa konsumennya?
  2. Masalah apa yang ingin dibantu oleh produk?
  3. Apakah produk tersebut layak dikembangkan secara teknis dan bisnis?

Jika tiga pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban yang jelas, brand sebaiknya mengevaluasi kembali konsep sebelum meningkatkan investasi atau masuk ke produksi yang lebih besar.

Dengan demikian, pengembangan produk tidak hanya berorientasi pada menghasilkan formula, tetapi juga membangun produk yang memiliki target pasar dan arah bisnis.

Expertise EFBA dalam Pengembangan Produk Kosmetik

Pengembangan produk kosmetik membutuhkan perspektif produk sekaligus bisnis.

Dari sisi produk, pemilik brand perlu mempertimbangkan konsep, formula, sampel, kemasan, legalitas, produksi, dan kualitas.

Dari sisi bisnis, pertimbangannya mencakup target pasar, positioning, struktur harga, distribusi, pemasaran, serta strategi pertumbuhan.

EFBA menyediakan layanan yang berkaitan dengan pengembangan dan manufaktur kosmetik melalui Jasa Maklon Kosmetik EFBA. Layanan tersebut dapat menjadi referensi bagi pemilik brand yang sedang mempersiapkan konsep hingga kebutuhan produksi kosmetik.

Selain itu, EFBA Kosmetindo menampilkan layanan yang mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, pengembangan sampel, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi.

Pendekatan tersebut relevan karena pengembangan produk kosmetik tidak berhenti pada pembuatan formula.

Produk perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, kesiapan produksi, positioning, struktur harga, distribusi, serta strategi pemasaran.

Karena itu, pemilik brand perlu menghubungkan dua perspektif sejak awal:

Product Development → Market Development

Produk yang dikembangkan perlu memiliki karakter dan konsep yang jelas. Pada saat yang sama, brand juga perlu memahami siapa konsumennya, bagaimana produk akan diposisikan, serta bagaimana produk tersebut akan dibawa ke pasar.

Dengan pendekatan tersebut, proses pengembangan produk kosmetik dapat berjalan lebih terarah dari tahap ide hingga persiapan produk untuk dipasarkan.

pengembangan produk kosmetik

EFBA menyediakan layanan terkait pengembangan dan manufaktur kosmetik yang dapat dilihat melalui halaman Jasa Maklon Kosmetik EFBA.

Untuk proses pengembangan yang lebih spesifik, EFBA Kosmetindo menampilkan layanan konsultasi produk, pengembangan formula, pengembangan sampel, pendampingan legalitas, dan persiapan produksi.

Sementara itu, kebutuhan strategi bisnis dapat dipelajari melalui EFBA Consulting, yang mencantumkan solusi terkait strategi marketing, keuangan, dan operasional bisnis.

Menghubungkan perspektif tersebut penting karena tujuan pengembangan bukan sekadar menghasilkan kosmetik.

Produk juga perlu memiliki target konsumen, alasan keberadaan, struktur bisnis, serta strategi untuk membawanya ke pasar.

FAQ tentang Pengembangan Produk Kosmetik

Apa yang dimaksud dengan pengembangan produk kosmetik?

Pengembangan produk kosmetik adalah proses menerjemahkan kebutuhan konsumen dan konsep brand menjadi produk yang dapat diproduksi dan dipasarkan. Prosesnya dapat mencakup riset pasar, product brief, formulasi, sampel, kemasan, aspek regulasi, produksi, pemasaran, hingga evaluasi setelah produk masuk pasar.

Bagaimana mengetahui produk kosmetik yang dibutuhkan pasar?

Mulailah dengan memahami target konsumen dan masalah mereka. Setelah itu, analisis produk kompetitor, harga, ulasan konsumen, bahan yang digunakan, positioning, kanal distribusi, serta tren yang relevan. Tujuannya adalah menemukan kebutuhan atau peluang yang belum terlayani secara optimal.

Apakah kosmetik harus memiliki notifikasi BPOM?

BPOM menjalankan sistem notifikasi kosmetika sebagai bagian dari kerangka pengawasan kosmetik. Tata cara pengajuan notifikasi kosmetika antara lain diatur dalam PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 yang saat ini berstatus berlaku.

Apakah kosmetik wajib memiliki sertifikat halal?

Berdasarkan informasi resmi BPJPH dan PP Nomor 42 Tahun 2024, kosmetik termasuk kategori produk yang memasuki kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2026. Karena tanggal tersebut semakin dekat, kebutuhan halal sebaiknya sudah dimasukkan dalam roadmap pengembangan produk saat ini.

Apakah BPOM dan sertifikasi halal merupakan hal yang sama?

Tidak. Notifikasi kosmetika BPOM dan sertifikasi halal berada dalam kerangka regulasi dan memiliki fungsi yang berbeda. Karena itu, pemilik brand perlu memahami dan mempersiapkan masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.

Apakah produk kosmetik harus mengikuti tren?

Tidak selalu. Tren dapat menjadi sumber informasi, tetapi keputusan produk sebaiknya didasarkan pada kebutuhan target konsumen, positioning brand, kelayakan bisnis, serta kemampuan pengembangan dan produksi.

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum menghubungi perusahaan maklon?

Siapkan gambaran target konsumen, kategori produk, fungsi yang diinginkan, referensi produk atau tekstur, target harga, konsep kemasan, positioning, serta estimasi kebutuhan produksi. Jika konsep belum lengkap, konsultasi awal dapat digunakan untuk membantu memetakan kebutuhan pengembangan.

Apakah produk yang sudah memiliki BPOM pasti sukses di pasar?

Tidak. Kepatuhan regulasi dan keberhasilan komersial merupakan dua hal berbeda. Produk tetap membutuhkan target konsumen yang jelas, positioning, harga yang sesuai, distribusi, komunikasi, pemasaran, dan evaluasi pasar.

Berapa lama proses pengembangan produk kosmetik?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua produk. Waktu pengembangan dapat dipengaruhi kategori produk, kompleksitas formula, jumlah revisi sampel, kemasan, kesiapan dokumen, proses legalitas, dan jadwal produksi. Karena itu, timeline sebaiknya ditentukan berdasarkan proyek aktual.

Mengembangkan Produk yang Dibutuhkan Pasar

Maraknya kosmetik ilegal menunjukkan bahwa pertumbuhan industri kecantikan perlu diimbangi dengan pengembangan produk yang bertanggung jawab. Data pengawasan BPOM pada 2026 memperlihatkan bahwa kosmetik ilegal masih ditemukan dalam jumlah besar, baik melalui sarana fisik maupun penjualan online.

Bagi pemilik brand, jawabannya bukan sekadar membuat lebih banyak produk.

Pengembangan sebaiknya dimulai dengan memahami siapa konsumen yang ingin dilayani, masalah apa yang ingin dibantu, produk seperti apa yang relevan, dan bagaimana produk tersebut dikembangkan dengan memperhatikan kualitas serta regulasi.

Legalitas, keamanan, transparansi, kualitas produksi, dan kepercayaan konsumen kemudian perlu dibangun sebagai satu rangkaian yang saling mendukung.

Jika Anda masih berada pada tahap ide atau ingin menyusun arah bisnis sebelum mengembangkan produk, Anda dapat mempelajari layanan di EFBA dan EFBA Consulting. Untuk kebutuhan pengembangan formula, sampel, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi kosmetik, informasi layanan tersedia melalui EFBA Kosmetindo.

Tujuannya bukan hanya menghasilkan produk kosmetik, tetapi mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar dan memiliki fondasi bisnis yang jelas.