
Keinginan membuat brand kosmetik sering dimulai dari ide sederhana: ingin memiliki serum sendiri, membuat sabun dengan konsep tertentu, mengembangkan body care, atau menghadirkan skincare untuk target konsumen yang spesifik. Namun, mengubah ide tersebut menjadi produk yang siap dipasarkan membutuhkan proses yang lebih panjang daripada sekadar memilih formula dan membuat kemasan.
Pemilik brand perlu menentukan target pasar, konsep produk, positioning, formula, kemasan, model produksi, legalitas, strategi harga, hingga pemasaran. Setiap tahap saling berkaitan. Formula yang menarik belum tentu tepat apabila harga produksinya tidak sesuai target pasar. Sebaliknya, branding yang kuat tidak cukup jika produk dan klaim pemasarannya tidak memenuhi ketentuan.
Karena itu, calon pemilik brand perlu membangun bisnis kosmetik dari dua sisi sekaligus: produk yang layak dikembangkan dan bisnis yang layak dijalankan.
Bagaimana Cara Membuat Brand Kosmetik Sendiri?
Secara ringkas, proses membuat brand kosmetik dapat dimulai dengan menentukan target konsumen dan masalah yang ingin diselesaikan. Setelah itu, pemilik brand menyusun konsep produk, melakukan riset pasar, menentukan positioning, memilih partner maklon, mengembangkan formula dan sampel, menyiapkan identitas merek serta kemasan, memenuhi ketentuan legalitas produk, melakukan produksi, kemudian mempersiapkan strategi penjualan dan pemasaran.
Bagi perusahaan atau pemula yang belum memiliki fasilitas produksi sendiri, sistem maklon kosmetik atau contract manufacturing menjadi salah satu pilihan. Dengan model ini, pengembangan dan produksi dapat dilakukan bersama perusahaan yang menyediakan layanan maklon sesuai ruang lingkup dan persyaratan yang berlaku.
Namun, menggunakan jasa maklon tidak berarti pemilik brand dapat melewatkan strategi bisnis. Brand tetap perlu mengetahui siapa konsumennya, alasan konsumen memilih produknya, struktur harga, kanal penjualan, serta cara produk akan diposisikan di pasar.
1. Mulai dari Target Konsumen, Bukan Sekadar Ide Produk
Kesalahan yang dapat terjadi ketika memulai brand kosmetik adalah menentukan produk terlebih dahulu tanpa memahami siapa yang akan membelinya.
Misalnya, Anda ingin membuat facial serum. Pertanyaan berikutnya bukan hanya “bahan aktif apa yang sedang populer?”, tetapi:
Siapa target konsumennya? Masalah apa yang ingin dibantu oleh produk? Berapa rentang harga yang realistis? Produk akan dijual melalui marketplace, reseller, klinik, toko kosmetik, atau kanal sendiri? Apa yang membuat konsep tersebut berbeda dari produk yang sudah tersedia?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan memengaruhi formula, ukuran produk, desain kemasan, harga, bahkan komunikasi pemasaran.
Dengan demikian, proses membuat brand sebaiknya dimulai dari consumer problem → market opportunity → product concept, bukan sekadar mengikuti tren.
2. Lakukan Riset Pasar dan Kompetitor
Setelah menentukan target konsumen, lakukan riset terhadap kategori yang ingin dimasuki.
Perhatikan produk kompetitor, rentang harga, ukuran kemasan, ingredients yang sering digunakan, bentuk komunikasi, review konsumen, hingga kanal distribusinya.
Tujuannya bukan meniru produk yang sudah ada.
Riset membantu menemukan celah pasar. Sebagai contoh, sebuah kategori mungkin memiliki banyak produk murah tetapi sedikit produk yang menawarkan pengalaman premium. Pada kategori lain, konsumen mungkin memiliki banyak pilihan produk tetapi masih kesulitan memahami fungsi dan cara penggunaannya.
Temuan tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan positioning.
Untuk perusahaan yang belum memiliki pengalaman melakukan analisis pasar, layanan konsultasi bisnis EFBA dapat digunakan untuk membantu memetakan perencanaan bisnis, pemasaran, dan pengembangan usaha. EFBA memang mencantumkan konsultasi bisnis sebagai salah satu layanan perusahaan pada website resminya.
3. Tentukan Positioning Brand Kosmetik
Positioning menjawab pertanyaan sederhana:
“Mengapa konsumen perlu mempertimbangkan brand ini dibandingkan pilihan lainnya?”
Jawabannya sebaiknya tidak berhenti pada kata seperti “premium”, “berkualitas”, atau “terbaik”. Hampir semua brand dapat menggunakan istilah tersebut.
Positioning perlu lebih konkret.
Brand dapat menentukan fokus berdasarkan target pengguna, kebutuhan tertentu, pengalaman penggunaan, rentang harga, karakter formula, konsep visual, atau pendekatan lain yang memang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah positioning terbentuk, tentukan nama brand, tone komunikasi, visual identity, dan pesan utama yang konsisten.
EFBA juga memiliki layanan konsultan branding kosmetik yang membahas pengembangan identitas merek, riset pasar, target konsumen, dan strategi pemasaran kosmetik.
4. Tentukan Produk Pertama yang Akan Dikembangkan
Pemilik brand baru tidak harus langsung meluncurkan banyak SKU.
Lebih penting menentukan produk yang paling sesuai dengan positioning dan kemampuan bisnis.
Produk pertama dapat berupa serum, moisturizer, facial wash, sunscreen, body lotion, sabun, lip product, atau kategori kosmetik lainnya sesuai konsep yang ingin dikembangkan.
Pada tahap ini, buat product brief.
Product brief dapat memuat kategori produk, target pengguna, manfaat yang ingin dikomunikasikan, tekstur, warna, aroma, ukuran, jenis kemasan, kisaran harga jual, serta referensi produk.
Dokumen sederhana ini akan mempermudah komunikasi ketika masuk ke tahap pengembangan bersama tim maklon.
5. Tentukan Model Produksi: Bangun Pabrik atau Maklon?
Perusahaan yang ingin memproduksi kosmetik memiliki beberapa pertimbangan terkait fasilitas produksi, sumber daya manusia, sistem mutu, legalitas, peralatan, serta investasi.
Karena itu, tidak semua brand perlu memiliki pabrik sendiri.
Salah satu alternatifnya adalah menggunakan jasa maklon. Dalam skema ini, brand bekerja sama dengan pihak yang menangani pengembangan dan produksi sesuai kesepakatan serta ketentuan yang berlaku.
Melalui EFBA Kosmetindo, layanan yang ditampilkan mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, pengembangan sampel, pendampingan legalitas, dan persiapan produksi. Informasi tersebut dapat diverifikasi pada website EFBA Kosmetindo.
Bagi pemula, pendekatan ini memungkinkan fokus bisnis dibagi secara lebih jelas: partner produksi menangani ruang lingkup pengembangan dan produksi yang disepakati, sedangkan pemilik brand dapat memperkuat strategi, distribusi, penjualan, dan pemasaran.
6. Kembangkan Formula dan Sampel Produk
Setelah konsep disepakati, proses berlanjut ke pengembangan formula.
Tahap ini penting karena ide seperti “serum brightening yang ringan” masih terlalu luas. Konsep tersebut perlu diterjemahkan menjadi karakter produk yang dapat dibuat dan dievaluasi.
Tim pengembangan dapat mempertimbangkan komposisi, tekstur, warna, aroma, sensasi setelah pemakaian, compatibility dengan kemasan, serta karakter lain yang relevan.
Kemudian, sampel dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah hasil pengembangan sudah mendekati product brief.
Jika belum sesuai, formula atau karakter produk dapat memerlukan penyesuaian sebelum masuk ke tahap berikutnya.
EFBA Kosmetindo menyatakan bahwa proses pengembangan produknya dimulai melalui konsultasi untuk memahami konsep, kategori produk, kebutuhan formula, kemasan, dan arah pengembangan brand.
7. Siapkan Nama Merek dan Identitas Visual
Sambil formula dikembangkan, pemilik bisnis dapat mempersiapkan identitas brand.
Tahap ini dapat mencakup nama merek, logo, warna, tipografi, desain kemasan, brand voice, serta elemen visual untuk website dan media sosial.
Namun, nama yang menarik secara marketing belum tentu dapat langsung digunakan.
Sebelum berinvestasi besar pada desain dan promosi, pemilik usaha sebaiknya melakukan pemeriksaan terkait merek dan mempertimbangkan perlindungan kekayaan intelektual yang sesuai.
Hal ini penting karena identitas brand merupakan aset bisnis jangka panjang.
8. Pahami Notifikasi BPOM Sebelum Produk Dipasarkan
Kosmetik merupakan kategori produk yang diawasi BPOM.
Direktorat Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM menjalankan pengawasan pre-market yang mencakup notifikasi kosmetika, dan BPOM menyediakan layanan NOTIFKOS untuk proses tersebut.
Daftar regulasi kosmetik BPOM tahun 2025 juga mencantumkan Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika sebagai regulasi terkait notifikasi kosmetik.
Artinya, legalitas produk bukan sesuatu yang idealnya dipikirkan setelah produk selesai diproduksi.
Aspek regulasi perlu dipertimbangkan sejak pengembangan karena formula, informasi produk, pihak yang terkait dengan notifikasi, penandaan, dan klaim pemasaran saling berhubungan.
BPOM pada 2025 bahkan mengambil tindakan terhadap kosmetik yang ditemukan diproduksi dengan komposisi yang tidak sesuai dengan data yang didaftarkan. Kasus tersebut menunjukkan mengapa konsistensi antara formulasi, dokumentasi, produksi, dan informasi yang didaftarkan penting bagi pemilik brand.
9. Perhatikan Sertifikasi Halal Kosmetik pada 2026
Aspek halal juga perlu masuk dalam perencanaan brand kosmetik saat ini.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024 dan informasi resmi BPJPH terbaru, kosmetik termasuk kategori produk yang memasuki kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2026.
Karena artikel ini disusun menjelang berlakunya tahap tersebut, perusahaan yang sedang mengembangkan produk sebaiknya memasukkan kebutuhan halal dalam roadmap pengembangan sejak awal, bukan menunggu produk selesai dipasarkan.
Halal juga berkaitan dengan transparansi terhadap konsumen. BPJPH menyatakan bahwa implementasi sertifikasi halal diharapkan mendukung transparansi industri dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
10. Jangan Membuat Klaim Kosmetik Sembarangan
Brand kosmetik tentu ingin menjelaskan keunggulan produknya. Namun, marketing claim tidak dapat dibuat hanya karena terdengar menarik.
Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik dan saat ini berstatus berlaku.
Pada 2025, BPOM kembali menegaskan bahwa informasi pada penandaan, promosi, dan iklan kosmetik harus objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan. Tujuannya adalah melindungi masyarakat dari penggunaan kosmetik yang salah atau tidak tepat.
Karena itu, strategi marketing sebaiknya dibangun bersamaan dengan pemahaman terhadap batas klaim produk.
Brand membutuhkan copywriting yang menarik, tetapi tetap harus dapat dipertanggungjawabkan.
11. Tentukan Harga Jual Sebelum Produksi Massal
Harga sebaiknya tidak ditentukan hanya dengan melihat harga kompetitor.
Pemilik brand perlu menghitung struktur biaya yang relevan, seperti pengembangan produk, produksi, kemasan, desain, legalitas, distribusi, marketplace fee, promosi, komisi reseller, serta margin.
Setelah itu, bandingkan dengan willingness to pay target konsumen dan positioning yang ingin dibangun.
Tahap ini penting sebelum produksi dalam jumlah besar.
Produk mungkin memiliki konsep bagus, tetapi bisnis akan sulit berkembang apabila struktur harga tidak memberikan ruang yang cukup untuk operasional dan pemasaran.
12. Persiapkan Packaging dan Informasi Produk
Kemasan memiliki dua fungsi sekaligus: melindungi produk dan berkomunikasi dengan konsumen.
Desain harus sesuai identitas brand, tetapi informasi pada kemasan juga perlu memenuhi ketentuan yang berlaku.
PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 saat ini menjadi salah satu rujukan penting terkait penandaan kosmetik.
Karena itu, desain final sebaiknya tidak hanya dinilai dari sisi estetika.
Brand perlu memastikan bahwa ruang informasi, keterbacaan, identitas produk, dan elemen penandaan yang diperlukan sudah diperhitungkan sebelum kemasan dicetak dalam jumlah besar.
13. Produksi dan Jaga Konsistensi Kualitas
Setelah formula, sampel, legalitas, kemasan, dan kebutuhan produksi siap, proses dapat berlanjut menuju produksi sesuai tahapan yang disepakati dengan pihak manufaktur.
Pada tahap ini, konsistensi menjadi penting.
Konsumen membeli produk berdasarkan ekspektasi yang dibangun melalui formula, informasi pada kemasan, konten marketing, dan pengalaman penggunaan sebelumnya.
Ketidaksesuaian antara apa yang didaftarkan, diproduksi, dan diinformasikan dapat menimbulkan risiko regulasi sekaligus merusak kepercayaan pasar. Tindakan BPOM terhadap produk dengan komposisi yang tidak sesuai data notifikasi pada 2025 memperlihatkan pentingnya konsistensi tersebut.
Dengan demikian, legalitas, keamanan, transparansi, kualitas produksi, dan kepercayaan konsumen bukan lima hal yang berdiri sendiri. Kelimanya saling berhubungan.
14. Persiapkan Brand Sebelum Produk Diluncurkan
Kesalahan lain adalah baru memikirkan marketing ketika barang sudah selesai diproduksi.
Persiapan pemasaran idealnya berjalan sebelum produk tersedia.
Brand dapat mulai membangun website, marketplace, media sosial, product photography, edukasi produk, database calon pelanggan, strategi launching, serta sistem distribusi.
Dengan pendekatan ini, produk tidak berhenti di gudang setelah produksi.
Pemilik bisnis sudah memiliki jalur untuk memperkenalkan dan menjual produk ketika stok siap.
EFBA sendiri menyediakan layanan yang saling terkait antara konsultasi bisnis, pengembangan produk/maklon, legal dan business compliance, digital marketing, serta teknologi digital. Struktur layanan tersebut tercantum pada website resmi EFBA.
Urutan Membuat Brand Kosmetik dari Awal
Jika seluruh proses diringkas, alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Ide Bisnis → Riset Pasar → Target Konsumen → Positioning → Product Brief → Pemilihan Partner Maklon → Formula → Sampel → Brand & Packaging → Legalitas Produk → Persiapan Produksi → Produksi → Distribusi → Marketing → Evaluasi
Urutan tersebut tidak selalu sepenuhnya linear. Beberapa proses dapat berjalan bersamaan.
Misalnya, pengembangan branding dapat dilakukan ketika formula masih dikembangkan. Strategi marketing juga dapat dipersiapkan ketika proses legalitas berlangsung.
Yang terpenting, setiap keputusan tetap mengacu pada target konsumen dan model bisnis.
Expertise EFBA dalam Pengembangan Brand Kosmetik
PT EFBA Digital Mulia menyediakan solusi bisnis yang mencakup konsultasi bisnis, pengembangan produk dan maklon, legal dan business compliance, digital marketing, serta teknologi digital.
Untuk kebutuhan khusus kosmetik, ekosistem layanan tersebut terhubung dengan EFBA Kosmetindo.
Pada Website EFBA Kosmetindo menyebut bahwa layanan pengembangan produk kosmetik telah dikembangkan sejak 2020. Proses yang ditampilkan mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, pengembangan sampel, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi.
Artinya, calon pemilik brand dapat melihat pengembangan kosmetik dari dua perspektif.
Dari sisi bisnis, pertanyaan utamanya adalah target pasar, positioning, harga, strategi penjualan, distribusi, dan pemasaran.
Sementara dari sisi produk, fokusnya meliputi konsep, formula, sampel, kemasan, legalitas, dan persiapan produksi.
Menggabungkan kedua perspektif tersebut penting karena tujuan akhirnya bukan sekadar berhasil membuat kosmetik, tetapi membangun brand kosmetik yang memiliki produk sekaligus model bisnis yang jelas.

FAQ tentang Membuat Brand Kosmetik
Apakah pemula bisa membuat brand kosmetik sendiri?
Bisa. Pemilik brand tidak harus memiliki fasilitas produksi sendiri apabila menggunakan model maklon. Namun, pemilik tetap perlu memahami target konsumen, konsep produk, struktur biaya, legalitas, distribusi, dan strategi pemasaran.
Apakah harus memiliki pabrik sendiri untuk membuat brand kosmetik?
Tidak selalu. Salah satu alternatifnya adalah bekerja sama dengan perusahaan maklon atau contract manufacturer untuk pengembangan dan produksi produk sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Apa yang harus dipersiapkan sebelum menghubungi perusahaan maklon?
Siapkan gambaran target konsumen, jenis produk, fungsi yang diinginkan, referensi tekstur atau produk, konsep kemasan, target harga, dan estimasi kebutuhan. Jika belum lengkap, konsultasi awal dapat digunakan untuk membantu memetakan konsep.
Apakah kosmetik harus memiliki notifikasi BPOM?
BPOM menyediakan proses notifikasi kosmetika sebagai bagian dari pengawasan pre-market. Tata cara pengajuan notifikasi kosmetika diatur antara lain dalam PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022.
Apakah kosmetik wajib memiliki sertifikat halal?
Sesuai informasi resmi BPJPH dan PP Nomor 42 Tahun 2024, kosmetik termasuk kategori produk dalam tahap kewajiban sertifikasi halal yang berlaku mulai 18 Oktober 2026.
Berapa modal untuk membuat brand kosmetik?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua brand. Kebutuhan modal bergantung pada jenis produk, formula, jumlah produksi, kemasan, pengembangan desain, legalitas, marketing, distribusi, dan kebutuhan operasional. Sebaiknya buat proyeksi biaya berdasarkan konsep produk sebelum menentukan skala produksi.
Berapa lama proses membuat brand kosmetik?
Durasi dapat berbeda menurut produk, kompleksitas formula, revisi sampel, kemasan, proses legalitas, kesiapan dokumen, serta jadwal produksi. Karena itu, calon pemilik brand sebaiknya meminta timeline berdasarkan proyek aktual daripada menggunakan satu estimasi waktu untuk semua produk.
Mulai dari Produk atau Bisnis Terlebih Dahulu?
Jawabannya: keduanya perlu dikembangkan secara terintegrasi.
Produk yang bagus membutuhkan target pasar, positioning, distribusi, dan strategi pemasaran. Sebaliknya, konsep bisnis yang menarik membutuhkan produk yang dikembangkan dengan memperhatikan kualitas, regulasi, transparansi, dan kebutuhan konsumen.
Karena itu, proses membuat brand kosmetik sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan “produk apa yang sedang viral?”, tetapi dengan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa konsumen yang ingin dilayani, produk apa yang relevan bagi mereka, dan bagaimana membangun bisnis yang mampu membawa produk tersebut ke pasar?
Jika Anda masih berada pada tahap ide, EFBA dapat membantu dari perspektif konsultasi dan pengembangan bisnis. Untuk proses pengembangan produk, formula, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi kosmetik, Anda dapat mempelajari layanan EFBA Kosmetindo. Informasi layanan tersebut sesuai dengan ruang lingkup yang saat ini ditampilkan pada website resmi kedua perusahaan.
FAQ tentang Membuat Brand Kosmetik
Apakah pemula bisa membuat brand kosmetik sendiri?
Bisa. Pemilik brand tidak harus memiliki fasilitas produksi sendiri apabila menggunakan model maklon. Namun, pemilik tetap perlu memahami target konsumen, konsep produk, struktur biaya, legalitas, distribusi, dan strategi pemasaran.
Apakah harus memiliki pabrik sendiri untuk membuat brand kosmetik?
Tidak selalu. Salah satu alternatifnya adalah bekerja sama dengan perusahaan maklon atau contract manufacturer untuk pengembangan dan produksi produk sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Apa yang harus dipersiapkan sebelum menghubungi perusahaan maklon?
Siapkan gambaran target konsumen, jenis produk, fungsi yang diinginkan, referensi tekstur atau produk, konsep kemasan, target harga, dan estimasi kebutuhan. Jika belum lengkap, konsultasi awal dapat digunakan untuk membantu memetakan konsep.
Apakah kosmetik harus memiliki notifikasi BPOM?
BPOM menyediakan proses notifikasi kosmetika sebagai bagian dari pengawasan pre-market. Tata cara pengajuan notifikasi kosmetika diatur antara lain dalam PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022.
Apakah kosmetik wajib memiliki sertifikat halal?
Sesuai informasi resmi BPJPH dan PP Nomor 42 Tahun 2024, kosmetik termasuk kategori produk dalam tahap kewajiban sertifikasi halal yang berlaku mulai 18 Oktober 2026.
Berapa modal untuk membuat brand kosmetik?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua brand. Kebutuhan modal bergantung pada jenis produk, formula, jumlah produksi, kemasan, pengembangan desain, legalitas, marketing, distribusi, dan kebutuhan operasional. Sebaiknya buat proyeksi biaya berdasarkan konsep produk sebelum menentukan skala produksi.
Berapa lama proses membuat brand kosmetik?
Durasi dapat berbeda menurut produk, kompleksitas formula, revisi sampel, kemasan, proses legalitas, kesiapan dokumen, serta jadwal produksi. Karena itu, calon pemilik brand sebaiknya meminta timeline berdasarkan proyek aktual daripada menggunakan satu estimasi waktu untuk semua produk.
Mulai dari Produk atau Bisnis Terlebih Dahulu?
Jawabannya: keduanya perlu dikembangkan secara terintegrasi.
Produk yang bagus membutuhkan target pasar, positioning, distribusi, dan strategi pemasaran. Sebaliknya, konsep bisnis yang menarik membutuhkan produk yang dikembangkan dengan memperhatikan kualitas, regulasi, transparansi, dan kebutuhan konsumen.
Karena itu, proses membuat brand kosmetik sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan “produk apa yang sedang viral?”, tetapi dengan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa konsumen yang ingin dilayani, produk apa yang relevan bagi mereka, dan bagaimana membangun bisnis yang mampu membawa produk tersebut ke pasar?
Jika Anda masih berada pada tahap ide, EFBA dapat membantu dari perspektif konsultasi dan pengembangan bisnis. Untuk proses pengembangan produk, formula, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi kosmetik, Anda dapat mempelajari layanan EFBA Kosmetindo. Informasi layanan tersebut sesuai dengan ruang lingkup yang saat ini ditampilkan pada website resmi kedua perusahaan.





